Sunday, October 6, 2013

The Mitsaqan Ghaliza

Bismillah. 

Salam wbt. 


Alhamdulillah, telah sebulan berlalu sejak 6hb September 2013, tarikh termeterainya sebuah mitsaqan ghaliza (pernikahan). Kami, Nadhirah binti Ahmad Fauzi dan Mohd Nadzrul Shah bin Mohd Junit ingin mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan sekalung penghargaan dan jutaan terima kasih kepada semua yang telah datang menghadiri majlis pernikahan, walimatul urus di pihak perempuan dan pihak lelaki, dan tidak lupa juga buat semua yang menitipkan doa buat kami. Jutaan terima kasih juga buat kaum keluarga kerana membantu melancarkan majlis kami tempoh hari. Buat yang tidak dapat hadir, sebuah gambar kami kepilkan untuk tujuan hebahan perkahwinan. Mohon doa daripada semua agar bait yang dibina sentiasa diberkahi Allah, memberi sumbangan kepada ummah dan berkekalan hingga ke Jannah insyaAllah 



Apa itu mitsaqan ghaliza?

Saya tidak pandai menceritakannya panjang lebar. Jadi saya copy paste daripada link ini. Buat tuan penulis asal, saya mohon agar dihalalkan ilmu yang dikongsi.

“Ketika seseorang hendak menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agama. Maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam separuh yang tersisa.” (HR. Baihaqi)
Mendambakan pasangan merupakan fitrah sebelum dewasa dan dorongan yang sulit dibendung setelah dewasa. Manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial, mahluk yang membawa sifat ketergantungan. Memang sewaktu-waktu manusia bisa merasa senang dalam kesendiriannya, tetapi tidak untuk selamanya. Manusia telah menyadari bahwa hubungan yang dalam dan dekat dengan pihak lain akan membantunya mendapatkan kekuatan dan membuat dia lebih mampu menghadapi tantangan. Karena alasan-alasan inilah, maka manusia mampu melakukan perkawinan, berkeluarga, bermasyarakat dan berbangsa.
Agama menyariatkan dijalinnya pertemua pria dan wanita dan diarahkannya pertemuan itu sedemikian rupa sehingga terlaksana apa yang dinamai perkawinan, guna mengusir hantu keterasingan dan guna beralihnya kerisauan menjadi ketentraman.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Ar-Rum 39:21;
“Di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Allah adalah Dia menciptakan dari jenis kamu pasangan-pasangan agar kamu (masing-masing) memperoleh ketentraman dari (pasangan)-nya dan dijadikannya di antara kamu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
Perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang lelaki dan seorang perempuan untuk hidup bersama. Ikatan tersebut dinamai Allah “mitsaqan ghaliza”-perjanjian yang amat kukuh (QS An-Nisa 4:21). Perjanjian yang namanya demikian hanya ditemui tiga kali dalam Al-Qur’an. Pertama yang disebut di atas, yakni menyangkut perjanjian antara suami-istri, dan dua sisanya menggambarkan perjanjian Allah dengan para nabi-Nya (QS Al-Ahzab 33:7) dan perjanjianNya dengan umatNya dalam konteks melaksanakan pesan-pesan agama (QS An-Nisa 4:154).
Perjanjian antara suami-istri sedemikian kukuh, sehingga bila mereka dipisahkan di dunia oleh kematian, maka mereka masih akan digabungkan oleh Allah di akhirat setelah kebangkitan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Yasin 36:56 ;
“…mereka bersama pasangan-pasangan mereka bernaung di tempat yang teduh.”
Bahkan semua anggota keluarga ikut bergabung:
“Surga Adn yang mereka masuki, bersama orang-orang dari bapak-bapak mereka, pasangan-pasangan dan anak cucu mereka dan malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu..” QS. Ar-Rad 13:23
Dalam kehidupan berumah tangga, untuk menciptakan sakinah, ketenangan batin, dan kebahagiaan ruhani, tekad suami dan istri untuk hidup bersama merupakan faktor terpenting. Ini disebabkan karena tekad bersumber dari lubuk hati yang terdalam serta jiwa yang suci. Dan seperti kita semua tahu, manusia, kendati badannya berubah punah, namun jiwanya tidak demikian. Dinyatakan bahwa jiwa manusia kekal sesuai dengan kekekalan ruh dan karena itu pula, sebagaimana dinyatakan oleh Al Qur’an, kelanggengan hidup bersama sebagai pasangan suami istri berlanjut hingga hari kemudian. Ini tentu saja selama kehidupan rumah tangga mereka dijalin dan dibangun oleh nilai-nilai ilahi.
Itu sebabnya pula, perkawinan yang didasari oleh penyatuan jiwa tidak akan pernah punah atau layu dalam kehidupan ini. Memang ada permulaannya tetapi tak ada akhirnya. Selanjutnya, karena perkawinan yang didasari oleh cinta yang suci demikian itu halnya, maka pasangan suami istri tidak akan pernah merasa jemu, tidak juga merasakannya sebagai rutinitas yang membosankan dalam hidup.
Untuk mewujudkan hal tersebut, agama membekali manusia dengan potensi dalam dirinya, di samping ketetapan hukum yang tidak berubah, serta tuntunan dan petuah yang bila diindahkan, maka insya Allah, dampaknya adalah surga di dunia dan di akhirat.
Sebagai penutup, marilah kita selalu memanjatkan doa kepada Allah SWT, sebagaimana firmanNya dalam QS Al Furqon 25:74;
“…dan orang-orang yang berkata : Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dab jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Amin Ya Robbal’alamin.
p.s : Hari ini 1 Zulhijjah. Mari menyambut hari-hari terawal bulan zulhijjah dengan amalan-amalan yang soleh :)



Wednesday, October 2, 2013

Permainan

23 : 115 - Maka apakah kamu mengira 
bahawa Kami menciptakan kamu main-main 
(tanpa ada maksud) dan bahawa 
kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Satu ayat persoalan yang mudah tapi sangat besar maknanya jika benar-benar difikirkan.

Allah mentarbiyah kita dengan pelbagai cara, dan salah satunya adalah dengan menyuruh kita menggunakan akal untuk berfikir. Cuba lihat saja betapa banyak ayat al-Quran yang berbentuk soalan? Betapa banyak ayat yang dimulai dengan kalimah ' tidakkah kamu berfikir'? Betapa banyak ayat yang bermula dengan sumpah; yang dengannya Allah mengajak kita berfikir akan kebesaran perkara yang Allah bersumpah dengannya? 

Kerana proses berfikir tidak akan berhenti. Allah mahu untuk kita belajar dan terus belajar. Sebab itulah tarbiyah adalah satu proses yang tidak akan berhenti sampai ke hujung hayat sekalipun.

Saya juga masih belajar dan terus belajar. 
Harus belajar menjadi seorang isteri.
Harus belajar untuk menjadi seorang anak yang taat kepada ibu bapanya kendatipun sudah mempunyai suami.
Dan saya sendiri bukanlah mempunyai satu set ibu bapa. Alhamdulillah Allah kurniakan dua ibu dan satu bapa untuk ditaati, sebagai medan meraih lebih banyak pahala berbanding orang lain. (dan sebaliknya juga, medan meraih lebih banyak dosa berbanding orang lain, nauzubillah)
Dan kini harus juga belajar menjadi menantu kepada ibu bapa suami.
Dan yang turut sama penting belajar untuk terus membaiki diri dan istiqamah dalam jalan dakwah dan tarbiyah di Malaysia. (ini yang paling susah, fuhh)
Dan tidak lupa belajar untuk menjadi doktor yang selamat dan baik untuk ummah.
Untuk membahagikan masa dan perhatian untuk semua di atas bukan mudah buat saya, tapi insyaAllah saya akan terus belajar.

Dan dalam proses pembelajaran itu, saya terus dan terus juga melakukan kesilapan. Banyak hati-hati yang tersakiti dek perbuatan diri ini. Kekecewaan terhadap diri sendiri bertambah-tambah. Tapi terus mengingatkan diri bahawa tiada manusia yang dilahirkan dengan zero-error. Maka, kita harus bangkit dan terus bangkit setelah jatuh berkali-kali.

Satu peringatan yang cukup berkesan buat saya adalah : there is no dicotomy in life. Semuanya adalah satu. Bila kita mula membahagi-bahagi diri kepada pelbagai tanggungjawab ini, maka kita akan mudah untuk terjebak dalam melebihkan satu hal berbanding yang lain. Bila di rumah, kita hanya melebihkan soal kita sebagai isteri, dan lupa akan tanggungjawab sebagai anak, ahli masyarakat dan sebagainya. Tetapi jika kita merasa semua tanggungjawab itu sebagai satu, maka pada satu-satu masa, kita adalah isteri, dan kita juga adalah anak, jiran, ahli masyarakat, menantu, rakan, murabbi, mutarabbi, etc.

Kita tidak diciptakan main-main

Ya, kita tidak diciptakan main-main. Untuk apa kita diciptakan, tidak perlu difikirkan jauh-jauh lagi kerana jawapannya sudah ada di dalam kitab Allah Al-Quran Al-Karim. Untuk menjadi abid dan khalifatullah. Yang menjadi persoalannya, adalah bagaimanakah kita betul-betul memaknai tugas itu. Bagaimana kita menggembleng segala potensi diri ke arah menjadi abid dan khalifah Allah yang terbaik. 

Setelah pulang dari Russia, saya disibukkan dengan persiapan perkahwinan. Walaupun majlis nya ringkas, rupa-rupanya persiapan yang kecil-kecil itu turut memakan masa. Ingat lagi, adik, abang dan saya dari pagi ke petang menghadap door gift.. dan itupun memakan masa berhari-hari. Jadi minda dipenuhi dengan perkara tersebut. Masih 'boleh' lagi beralasan sibuk dengan persiapan walimah. Kini setelah berbaitul muslim, dan dengan takdir Allah belum memasuki alam pekerjaan, diri rasa kurang dibebani tanggungjawab. Menyebabkan hari-hari dipenuhi dengan persoalan tentang tujuan hidup dan living up to my potentials so that I can serve the ummah. Apakah visi dan misi berbaitul muslim? Bagaimanakah dengan berbaitul muslim, diri ini menjadi lebih baik dan menyumbang dengan lebih banyak? 

Semua itu harus difikirkan dengan baik-baik, kerana kita tidak diciptakan main-main.