Monday, November 11, 2013

10 million in 20 years

Bismillah.
Salam wbt.

10 millions in 20 years.

Is it possible?

Yes I believe so.

But faith without action is nothing.

It is going to be a looong and winding road but I believe that it is all for a greater cause. Money is not everything. But everything needs money. Even doing da'wah needs money. To get to one place to another. Places for daurah. Food for mad'u. Buku-buku tarbiyah. And much more important, to build the ummah, to build our generation. All that need money. And I certainly do not want money to be the main reason holding me from doing da'wah. When you can control money in your hand, then it won't control your heart.


[credit]


Yes it's going to take a lot of mujahadah. But that is the nature of life. You work for something to get something in return. Even going to Jannah takes a lot of mujahadah. 

I am envious of those who has started their road to financial freedom earlier but I believe patience is the key. Time is precious, but I am going to take one step at a time. Prioritize the priority. Grab as much as I can within the time that I have. And do as much as I can within my capabilities. I do not want to be juggling too much that I will drop everything smashing down on the floor. 

Whatever it is, it must start now. I may not be able to take 10 steps, but 1 step is better than nothing. And that first step would be to maintain a positive cashflow for this first few months by making sure my income > expenses. Because I do not have active assets that's pumping in money to my income, so reducing the expenses is the first step to do. My income right now will be solely my salary as a doctor. Eh, nafkah dari suami kira income tak? If yes, then I already have multiple source of income. Eheh :) 

To come to think of it, I am grateful that I have a financially literate father. Because due to him, by the time I graduated from medical school I already have some gold portfolios, unit trust and deposit to pay for a new car. And together with that, still large savings in the bank. Alhamdulillah, I think that is enough for me to start. 

So, In the name of Allah the Most Gracious, Most Merciful I begin my journey towards financial freedom and may Allah keep my intentions true till the end of it.

#towardsfinancialfreedom



Sunday, October 6, 2013

The Mitsaqan Ghaliza

Bismillah. 

Salam wbt. 


Alhamdulillah, telah sebulan berlalu sejak 6hb September 2013, tarikh termeterainya sebuah mitsaqan ghaliza (pernikahan). Kami, Nadhirah binti Ahmad Fauzi dan Mohd Nadzrul Shah bin Mohd Junit ingin mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan sekalung penghargaan dan jutaan terima kasih kepada semua yang telah datang menghadiri majlis pernikahan, walimatul urus di pihak perempuan dan pihak lelaki, dan tidak lupa juga buat semua yang menitipkan doa buat kami. Jutaan terima kasih juga buat kaum keluarga kerana membantu melancarkan majlis kami tempoh hari. Buat yang tidak dapat hadir, sebuah gambar kami kepilkan untuk tujuan hebahan perkahwinan. Mohon doa daripada semua agar bait yang dibina sentiasa diberkahi Allah, memberi sumbangan kepada ummah dan berkekalan hingga ke Jannah insyaAllah 



Apa itu mitsaqan ghaliza?

Saya tidak pandai menceritakannya panjang lebar. Jadi saya copy paste daripada link ini. Buat tuan penulis asal, saya mohon agar dihalalkan ilmu yang dikongsi.

“Ketika seseorang hendak menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agama. Maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam separuh yang tersisa.” (HR. Baihaqi)
Mendambakan pasangan merupakan fitrah sebelum dewasa dan dorongan yang sulit dibendung setelah dewasa. Manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial, mahluk yang membawa sifat ketergantungan. Memang sewaktu-waktu manusia bisa merasa senang dalam kesendiriannya, tetapi tidak untuk selamanya. Manusia telah menyadari bahwa hubungan yang dalam dan dekat dengan pihak lain akan membantunya mendapatkan kekuatan dan membuat dia lebih mampu menghadapi tantangan. Karena alasan-alasan inilah, maka manusia mampu melakukan perkawinan, berkeluarga, bermasyarakat dan berbangsa.
Agama menyariatkan dijalinnya pertemua pria dan wanita dan diarahkannya pertemuan itu sedemikian rupa sehingga terlaksana apa yang dinamai perkawinan, guna mengusir hantu keterasingan dan guna beralihnya kerisauan menjadi ketentraman.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Ar-Rum 39:21;
“Di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Allah adalah Dia menciptakan dari jenis kamu pasangan-pasangan agar kamu (masing-masing) memperoleh ketentraman dari (pasangan)-nya dan dijadikannya di antara kamu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
Perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang lelaki dan seorang perempuan untuk hidup bersama. Ikatan tersebut dinamai Allah “mitsaqan ghaliza”-perjanjian yang amat kukuh (QS An-Nisa 4:21). Perjanjian yang namanya demikian hanya ditemui tiga kali dalam Al-Qur’an. Pertama yang disebut di atas, yakni menyangkut perjanjian antara suami-istri, dan dua sisanya menggambarkan perjanjian Allah dengan para nabi-Nya (QS Al-Ahzab 33:7) dan perjanjianNya dengan umatNya dalam konteks melaksanakan pesan-pesan agama (QS An-Nisa 4:154).
Perjanjian antara suami-istri sedemikian kukuh, sehingga bila mereka dipisahkan di dunia oleh kematian, maka mereka masih akan digabungkan oleh Allah di akhirat setelah kebangkitan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Yasin 36:56 ;
“…mereka bersama pasangan-pasangan mereka bernaung di tempat yang teduh.”
Bahkan semua anggota keluarga ikut bergabung:
“Surga Adn yang mereka masuki, bersama orang-orang dari bapak-bapak mereka, pasangan-pasangan dan anak cucu mereka dan malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu..” QS. Ar-Rad 13:23
Dalam kehidupan berumah tangga, untuk menciptakan sakinah, ketenangan batin, dan kebahagiaan ruhani, tekad suami dan istri untuk hidup bersama merupakan faktor terpenting. Ini disebabkan karena tekad bersumber dari lubuk hati yang terdalam serta jiwa yang suci. Dan seperti kita semua tahu, manusia, kendati badannya berubah punah, namun jiwanya tidak demikian. Dinyatakan bahwa jiwa manusia kekal sesuai dengan kekekalan ruh dan karena itu pula, sebagaimana dinyatakan oleh Al Qur’an, kelanggengan hidup bersama sebagai pasangan suami istri berlanjut hingga hari kemudian. Ini tentu saja selama kehidupan rumah tangga mereka dijalin dan dibangun oleh nilai-nilai ilahi.
Itu sebabnya pula, perkawinan yang didasari oleh penyatuan jiwa tidak akan pernah punah atau layu dalam kehidupan ini. Memang ada permulaannya tetapi tak ada akhirnya. Selanjutnya, karena perkawinan yang didasari oleh cinta yang suci demikian itu halnya, maka pasangan suami istri tidak akan pernah merasa jemu, tidak juga merasakannya sebagai rutinitas yang membosankan dalam hidup.
Untuk mewujudkan hal tersebut, agama membekali manusia dengan potensi dalam dirinya, di samping ketetapan hukum yang tidak berubah, serta tuntunan dan petuah yang bila diindahkan, maka insya Allah, dampaknya adalah surga di dunia dan di akhirat.
Sebagai penutup, marilah kita selalu memanjatkan doa kepada Allah SWT, sebagaimana firmanNya dalam QS Al Furqon 25:74;
“…dan orang-orang yang berkata : Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dab jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Amin Ya Robbal’alamin.
p.s : Hari ini 1 Zulhijjah. Mari menyambut hari-hari terawal bulan zulhijjah dengan amalan-amalan yang soleh :)



Wednesday, October 2, 2013

Permainan

23 : 115 - Maka apakah kamu mengira 
bahawa Kami menciptakan kamu main-main 
(tanpa ada maksud) dan bahawa 
kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Satu ayat persoalan yang mudah tapi sangat besar maknanya jika benar-benar difikirkan.

Allah mentarbiyah kita dengan pelbagai cara, dan salah satunya adalah dengan menyuruh kita menggunakan akal untuk berfikir. Cuba lihat saja betapa banyak ayat al-Quran yang berbentuk soalan? Betapa banyak ayat yang dimulai dengan kalimah ' tidakkah kamu berfikir'? Betapa banyak ayat yang bermula dengan sumpah; yang dengannya Allah mengajak kita berfikir akan kebesaran perkara yang Allah bersumpah dengannya? 

Kerana proses berfikir tidak akan berhenti. Allah mahu untuk kita belajar dan terus belajar. Sebab itulah tarbiyah adalah satu proses yang tidak akan berhenti sampai ke hujung hayat sekalipun.

Saya juga masih belajar dan terus belajar. 
Harus belajar menjadi seorang isteri.
Harus belajar untuk menjadi seorang anak yang taat kepada ibu bapanya kendatipun sudah mempunyai suami.
Dan saya sendiri bukanlah mempunyai satu set ibu bapa. Alhamdulillah Allah kurniakan dua ibu dan satu bapa untuk ditaati, sebagai medan meraih lebih banyak pahala berbanding orang lain. (dan sebaliknya juga, medan meraih lebih banyak dosa berbanding orang lain, nauzubillah)
Dan kini harus juga belajar menjadi menantu kepada ibu bapa suami.
Dan yang turut sama penting belajar untuk terus membaiki diri dan istiqamah dalam jalan dakwah dan tarbiyah di Malaysia. (ini yang paling susah, fuhh)
Dan tidak lupa belajar untuk menjadi doktor yang selamat dan baik untuk ummah.
Untuk membahagikan masa dan perhatian untuk semua di atas bukan mudah buat saya, tapi insyaAllah saya akan terus belajar.

Dan dalam proses pembelajaran itu, saya terus dan terus juga melakukan kesilapan. Banyak hati-hati yang tersakiti dek perbuatan diri ini. Kekecewaan terhadap diri sendiri bertambah-tambah. Tapi terus mengingatkan diri bahawa tiada manusia yang dilahirkan dengan zero-error. Maka, kita harus bangkit dan terus bangkit setelah jatuh berkali-kali.

Satu peringatan yang cukup berkesan buat saya adalah : there is no dicotomy in life. Semuanya adalah satu. Bila kita mula membahagi-bahagi diri kepada pelbagai tanggungjawab ini, maka kita akan mudah untuk terjebak dalam melebihkan satu hal berbanding yang lain. Bila di rumah, kita hanya melebihkan soal kita sebagai isteri, dan lupa akan tanggungjawab sebagai anak, ahli masyarakat dan sebagainya. Tetapi jika kita merasa semua tanggungjawab itu sebagai satu, maka pada satu-satu masa, kita adalah isteri, dan kita juga adalah anak, jiran, ahli masyarakat, menantu, rakan, murabbi, mutarabbi, etc.

Kita tidak diciptakan main-main

Ya, kita tidak diciptakan main-main. Untuk apa kita diciptakan, tidak perlu difikirkan jauh-jauh lagi kerana jawapannya sudah ada di dalam kitab Allah Al-Quran Al-Karim. Untuk menjadi abid dan khalifatullah. Yang menjadi persoalannya, adalah bagaimanakah kita betul-betul memaknai tugas itu. Bagaimana kita menggembleng segala potensi diri ke arah menjadi abid dan khalifah Allah yang terbaik. 

Setelah pulang dari Russia, saya disibukkan dengan persiapan perkahwinan. Walaupun majlis nya ringkas, rupa-rupanya persiapan yang kecil-kecil itu turut memakan masa. Ingat lagi, adik, abang dan saya dari pagi ke petang menghadap door gift.. dan itupun memakan masa berhari-hari. Jadi minda dipenuhi dengan perkara tersebut. Masih 'boleh' lagi beralasan sibuk dengan persiapan walimah. Kini setelah berbaitul muslim, dan dengan takdir Allah belum memasuki alam pekerjaan, diri rasa kurang dibebani tanggungjawab. Menyebabkan hari-hari dipenuhi dengan persoalan tentang tujuan hidup dan living up to my potentials so that I can serve the ummah. Apakah visi dan misi berbaitul muslim? Bagaimanakah dengan berbaitul muslim, diri ini menjadi lebih baik dan menyumbang dengan lebih banyak? 

Semua itu harus difikirkan dengan baik-baik, kerana kita tidak diciptakan main-main. 

Thursday, August 22, 2013

2 minggu

Bismillah.

2 minggu.

Tempoh yang singkat.
Pejam celik pejam celik masa itu akan berlalu juga.

Sepertimana diri ini merasakan tempoh 2 tahun di MRSM itu panjang,
ia tiba ke pengakhiran jua.
Sepertimana diri ini merasakan tempoh 6 tahun di Russia sesuatu yang sungguuh panjang,
akhirnya ia juga tiba ke pengakhiran.

Apatah lagi 2 minggu.

Pengakhiran zaman bujangku.
Melangkah ke fasa seterusnya : berbaitul muslim.

Tapi, jujur, sangatlah belum bersedia lagi.
Usah bercakap tentang cita-cita baitul muslim yang bakal dibina,
kerana individu muslim dalam diri ini pun jauh dari sempurna.
Gusar.
Takut.
Kerana bakal menjadi bebanan pada sang pemimpin keluarga nanti.
Tetapi yakin bahawa itu bukan penghalang melangkah ke fasa baru.
Kerana pasti, sehingga bila-bila pun, bibir takkan mampu menuturkan, hati takkan mampu merasakan bahawa diri telah mencapai kesempurnaan induvidu muslim.
Bila ketakutan menguasai hati, cepat-cepat mengingatkan diri bahawa Allah itu ada, dan susunan Allah itulah yang terbaik.

Hasbunallah wa ni'mal wakeel.

Mungkin dengan berbaitul muslim ini, makin mudah membetulkan diri. 
Kerana makin banyak tanggungjawab, makin kurang masa untuk dilepaskan dengan yang tidak berfaedah.

Mungkinkah? Hanya Allah yang mengetahui.

Maka, kerana itu, aku pohon doanya daripada sesiapa yang turut membaca agar dipermudahkan urusanku dan diberkati Allah hendaknya.

Hmm.

TIdak lupa kepada yang LEBIH LAGI memerlukan doa-doa kita,
saudara-saudara di Mesir, Syria dan Palestin,
yang hari-harinya tidak sempat memikirkan hal seremeh diri ini,
yang hari-harinya hidup seperti inilah hari terakhir di atas muka bumi,
yang hari-harinya tidak putus mengingati Allah,
yang hari-harinya tidak jemu mengharap syahid.

Ya Rabb..

Moga Allah jadikan diri ini sentiasa memikirkan hal-hal yang lebih besar di dalam hidup.
Moga Allah sentiasa menjadi tujuan kami.
Moga Al-Quran sentiasa menjadi panduan kami
Moga Rasul sentiasa menjadi ikutan kami.
Moga mati di jalan Allah sentiasa menjadi cita-cita kami.

Amin
Amin
Amin











Sunday, June 9, 2013

It's finally here

Salam wbt.

Bismillah.

So today is 9th June 2013.

It means that tomorrow I am going to sit for my final exam as an undergraduate medical student.

Nervous, no?

I know I am suppose to be studying right now, but let's just take a 5 minutes break, ya?

The long 6 year journey is finally coming to an end, and yet I feel like I know nothing! Okay, maybe that is a bit exaggerating. But I guess that is kind of normal in times like this, if you know what I mean.


Jazakillah khayr for my two lovely housemates for making us lunch, er and plus dinner. It's Penang Laksa ya'll!!

Ok the 5 minutes is coming to an end.

p.s : you know what, I finally feel like I understand (if not fully, a bit) the feeling when Rasulullah said  : Bilal, rehatkan kami dengan solat.

May Allah ease!

till next time!~

Thursday, May 23, 2013

I'm drooling!!~

My Inner Baker Ultimate Wish List 
: This Kenwood kMix Kitchen Machine





i can make the fluffiest buttercream anytime with that whisker!!~ ^_^



oh, just how adorable ^_^ ~


and in my favourite colour too!~

Wednesday, May 22, 2013

Planning Russian Trip

Bismillah.

Salam wbt.

Today is the 22nd of May 2013.

In less than a month I will be sitting for the State Exam, or much better known to the student as GOS examination ( short for gasudarstvenni ekzamen ). 

I am quite thrilled for it to be over, but don't get me wrong, it's not because of the study, we kind of  have it quite easy here. I'm actually thrilled because that means that my family is coming here soon. Yeay!

Earlier this year, we were told that the GOS exam are going to be held on the 8th and 10th of June. So I suggested to my mother to buy her flight ticket on the 10th, so that she could arrive in Moscow on the 11th. But fate has it that the exam dates has been changed to 10th and 11th. So I have to literally try to answer my exam quickly, and carefully I hope, and run to the airport to pick her up. 

Also, there will be two family trips, the first one is going to be only Mama and me. And another one is for the 5 of us : Abah, Ummi, big bro, lil sis and me. 

That is why, instead of studying, I am currently planning their trips here.

Even though I've lived here in Moscow for almost 6 years, but I've never actually explored it thoroughly.  There are only a few attractions that I've been to in Moscow, but, there's not much to see here anyway. Or maybe because you tend to take things for granted especially when it is close to you. Just when you are about to lose/leave it, then only will you realize how great or how fine it is. The other cities I've been to were Volgograd, Nizhny Novgorad, Kursk, and Kazan. 

When you come to Russia, the must-see cities are Moscow and St.Petersburg. So that left me with just one city to visit. And going there for the first time, plus bringing people along is quite a challenge for me. Luckily St.Petersburg is not that hard to figure out and being a must-see city, you can find almost every information you need on the internet. 

Planning trips in Russia can be quite challenging since almost everything in Russia is expensive. When you open travel websites, it's going to give you a headache since almost everything is a must visit. So one thing I always do is search for blogs where over there you can find people's experiences, their views on what we have to visit and what we can just skip. Tips on how to save on entrance tickets, the best time to visit a place, and how to arrange your trip. Everything at the tip of your finger, heh?

Just a sneak peak on the upcoming adventure : midnight train ride, sunset river cruise, a room overlooking the canal and the city's major attractions, a visit to one of the world's largest collection of arts and paintings, evening walk in scenic parks, scandinavian adventure, cruise ride, a visit to the fjords (go figure!), ballet performance.. and many more!

I'm excited!

But for now let's get the accommodation, the train rides, the-must-buy-early-as-to-avoid-long-lines entrance tickets, and the tentative settled. And then we have to put them aside.



Because the exam is waiting, and even though no one really takes this exam seriously, but I am sure I would not want to enter the hall unprepared and to answer the oral question badly. Even though like I have mentioned before, one can easily pass the exam. At the end of the day, I am going to be a doctor, and I will have to treat patients, and I seriously do not want to kill anyone due to the lack of knowledge and experience. If the system is not going to help you, you just have to work harder to gain the knowledge you were supposed to get. You just have to put some extra effort, go a few miles further. People are going to say, it is because of those few people who take for granted the easy system they have here, that makes the russian graduates reputation very bad in Malaysia. I do hope that I am not going to be one of them. Like the old saying, bersusah-susah dulu, bersenang-senang kemudian. Kiasu or not, the choice is yours. 


Tuesday, May 14, 2013

Our time is running out

Bismillah.

Salam wbt.

Our time is running out - Muse

Antara lagu favourite zaman dolu-dolu. 

Heh.

Dalam masa sebulan lagi, berakhir lah kehidupan saya sebagai seorang pelajar ijazah perubatan di bumi Moscow, Russia. 

Berdebar?

Pasti ada. 

Kerana apa?

Banyak. Sebilangan kecil kerana akan menghadapi peperiksaan akhir (GOZ Exam). Walaupun sejarah membuktikan tidak pernah orang gagal dalam peperiksaan ini. Dan walaupun sijil kami sudah siap dicetak pun. Tetap debaran itu ada. Takkan nak masuk exam dengan kosong di dalam kepala.

Kemudian, berdebar untuk mengetahui diri yang sebenar di Malaysia nanti bagaimana di sudut Dakwah dan Tarbiyah. Mungkin di sini, cabaran nya tidak besar. Dan mad'u juga adalah di kalangan pelajar juga. Maksudnya 'wavelength' akan lebih kurang sama. Tambahan lagi mengambil bidang yang sama. Tarikan atau ujian luar tidak banyak. Akan tsabat kah saya? Atau menjadi buih yang mengalir di bawa arus sungai. 

Dan berdebar juga mengenangkan bekalan untuk menjadi doktor yang selamat juga sangaaaattt kurang. Saya tidak akan menyalahkan sistem pembelajaran di sini. Tidak lain tidak bukan, diri inilah yang sangat-sangat kurang dalam menguasai topik pembelajaran. 

Banyak lagi target awal tahun 6 yang tidak tercapai.

Hafazan nya.

Short notes for every topic nya.

Bacaannya.

Haih.

But never mind.

Hari tu down juga. Hampir sebulan parah. Tapi kita harus bangkit. Jadi, saya main cheating, minta usrati berikan tazkirah tentang istiqamah. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Jazakillah khayr. You know who you are. 

Now I'm back in the game.

And walaupun time is running out, I know that Allah won't run out from me, right?



Chill :)

Pray for me.


Friday, April 12, 2013

Because He is always near!

Bismillah.

Assalamualaikum wrt. 

This is a random rambling. But it won't be long I promise. So just bear with me for a few minutes, okay?

So often we meet with these ayah in Quran :-

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (ketahuilah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran ( Al Baqarah: 186)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat dari pada urat lehernya (Al Qaaf:16)

From the above mentioned ayah, Allah had told us that He is near. He listens to us. Even that which is whispered only in the heart and not verbalised for others to hear. So directly He is telling us to seek him in every thing we do. Because He will be the first to know of any mishap, any victory, any losses, any gains that we have.

Have you ever feel happiness when making dua? Or feel happy when your dua is fulfilled? 

I used to feel nothing when making dua. Perhaps because I don't think my dua will be answered, not because He doesn't listen, or that He has no time for it; but it's because I feel that the sins I've committed prevented my dua from being fulfilled. 

That is where I was wrong. You have to make dua, and you must feel that your dua will be answered, only then, you start making dua with all your heart. And then, only then, you look forward to have your own little private conversation with Allah. You will feel like there is hope. Even when it is not fulfilled, you know that He  might postponed it for a while because after all, He has a greater plan for you, and that He knows what's best for you. You kind of feel this interaction going on between you and Allah. This closeness. 

[credit]


You see, even when you don't make dua, Allah is going to give you what He has written for you. For example, you have an examination in the evening and if Allah wills, you get a 5. Even when you didn't make dua. 

But if you made a dua earlier, and you get a 5, you will feel a sudden rush of happiness knowing that Allah had listen and he had fulfilled your dua. 

See, same result, but difference in amal. Knowing that Allah does not judge a person by his/her result, but only by his/her amal, would surely drive us to keep making good amal.

May Allah make us among those who often make dua. And May Allah reward us jannah for that, insyaAllah.

hee, i promised it will be short, didn't I? ;)


Saturday, February 9, 2013

Take 5 : How To Frost A Cake

Salam wbt.

Bismillah.

It's a new semester. New subject.

Today was organising day. Organising money. Organising timetable. Organising table. Organising thoughts. Organising life.

So when the engine runs for a long time, it became hot. That calls for a small break.

And it lead to this.



Happy watching. Happy learning.

This is how you frost a cake.

This tutorial is using ganache. But be it buttercream, creamcheese, etcetera, the technique is rather similar :)




Monday, February 4, 2013

Random Worries


Salam wbt.

Bismillah.

Lagi dua hari, saya akan mengambil penerbangan terakhir saya untuk ke Moscow daripada Malaysia, insyaAllah.

Tempoh hidup di Russia bakal berakhir.
Tinggal 6 bulan sahaja lagi.

6 tahun bukanlah tempoh yang sekejap.

Satu perempat hayat hidup dihabiskan disana.

Perubahan fasa remaja kepada awal dewasa.

Fasa yang mengdefinasikan siapa saya.

Belajar bidang yang rata-rata digeruni orang.
Belajar hidup jauh dari keluarga.
Belajar membuat keputusan.
Belajar menguruskan hidup.
Belajar kerenah perangai manusia.
Belajar mendengar.
Belajar memasak. Eh.

Dan yang paling bermakna sekali, 
belajar apa itu makna sebenar sebuah kehidupan.

Berdebar-debar.
Kerana hanya tinggal 6 bulan,
untuk melengkapkan diri menjadi doktor yang SELAMAT untuk ummat
untuk berlatih sebaik mungkin sebelum berdepan dengan dakwah dan tarbiyah di Malaysia

Kerana sehingga kini pun,
rasa macam tak belajar apa pun ilmu perubatan
Kerana sehingga kini pun,
rasa macam tak pernah buat kerja dakwah dan tarbiyah dengan betul dan baik pun.

Quoting en.gabbana,
Cakap banyak. Buatnya sedikit.
Bising selalu. Amalnya defisit.
Berlagak lebih. Hasilnya kosong.
Tanya berlambak. Jawabnya tiada.
Lidah laju. Tangan dan kaki tertinggal selalu. 
Banyak meminta. Bila terkena, baru padan muka.
Selalu bersangka. Bila batang hidung terkena, baharu merana

Mampukah aku?

[kredit]


Saturday, February 2, 2013

Anatomy for the blind


Salam wbt.

Bismillah.

A couple of weeks ago, we made a visit to a reflexology centre to accompany one of my family member for a session of therapeutic reflexology.  Traditionally, reflexology is known as a method of applying pressure to certain points on the hand or feet that corresponds to certain organs or parts of the body.

[kredit]
Therapeutic reflexology, however, has a rather wider meaning. Let's look at the definition which I took from this website.

Specific finger and thumb pressure techniques are used on the feet, lower legs, hands, arms, face and or ears to enable therapists to identify and respond to congestion and imbalances, for example, tightness in the chest reflexes [attributable  to stress], sensitivity in the bladder reflexes [ possible bladder infection], granular areas in the stomach and colon reflexes [likely constipation] etc.
If the therapeutic reflexologist applies firm pressure technique, this will prevent a 'tickle' sensation. During the session, different sensations may be experienced in certain reflex areas but the treatment should not be painful nor cause discomfort, but should rather be calming and comforting. 
There may be a sharp pain, or the feet may feel very sensitive. Sensitivity varies from person to person, and from treatment to treatment. The therapist will adjust the pressure to suit the patient - who should be asked to comment on the sensations that he/she experiences.

Treatments are usually completed using gentle massage techniques which will leave the patient relaxed and soothed, thus enhancing the body’s capacity to utilize its natural healing potential.

The reflexology centre which we went to is managed by a blind reflexologist. Even the workers are among those who are blind or vision impaired. Well, this is not an uncommon scene in Malaysia. In the West, particularly in America, they only had their first blind reflexologist just a couple of years ago. Even as a small child, I had been to some reflexology centre alike. 

How did blind reflexologist became common in Malaysia? Thanks to efforts made by the Malaysian Association for the Blind (MAB), a training centre for the blind had been long established (click here). The Gurney Training Centre for the Blind provides the blind with rehabilitation and vocational training services. These vocational training includes industrial works, reflexology, telephony, computer programming, etcetera.

[kredit]
I do believe that a blind reflexologist, in general, would be better than the ones having normal vision. All praise to Allah, for creating in such a way that when one sense is taken away, other senses becomes accentuated. I asked our reflexologist whether he felt that way, and he agreed saying that his hearing, touching and smelling becomes sharper. 

Now, to the part I wanted to share today. In pursuit of knowledge, a scholar (which I forgot who) once mentioned that we must know EVERYTHING about SOMETHING, and SOMETHING about EVERYTHING. Meaning that in the area which we specialises on, we must make an effort to learn everything about it. And be a master at it. And make sure that we know a little bit of everything in areas that we don't specialises on. For example, as a medical student, I must make sure that I know almost everything that one needs to know in the field of medicine, and take effort to learn a little bit of knowledge in engineering, architecture, cooking, psychology, etcetera. Only then, we will become a person of knowledge. And not like Jack of all trades, master of none. 

There are many blind reflexologists out there. So what will make one stands out from the other? It's the pursuit of mastering the art of human body. The anatomy of it. This particular reflexologist we met, went as far as China just to enroll himself in a one month comprehensive course of anatomy for the blind. In that one month course, he gets to touch fresh human corpses to learn the anatomy of human body. Which he says is currently unavailable in Malaysia. Before, he said many patient came to him complaining of having slip disc, problem with meniscus, etcetera. He did learn about anatomy before, but he just couldn't imagine how it looks like. During the short course in China, only did he able to visualize in his mind the shape of meniscus and vertebra. And coming back to Malaysia, he is now able to treat patients way better than before, now that he knows the external orientation of the bones, muscles and nerves. It really brings back to me the memories of learning Topographical Anatomy in my fourth year as a medical student.

Knowing that I am a medical student, he starts using medical terminologies to explain the parts of the body he is currently applying pressure to. With other people, he can only use layman's term. It was a good opportunity for him to refresh back his memory on medical terminologies. Excitingly, he actually learned anatomy in Chinese language. However his group did bring along a translator to translate it into English. Similar to us in Russia, where we learned Topographical Anatomy in Russian Language, instead of English. The reflexologist excitedly telling me all the Chinese anatomy terminologies. In return, I told him the Russian ones.

Believing that mastering the anatomy would make a blind reflexologist better in their field, I asked him why don't we have such comprehensive course for the other blind reflexologists out there? He shared that they have thought about it before, but the cost it would take to bring one fresh corpse to Malaysia is about RM20,000. And that doesn't include the professional that we had to fly in together with the corpse to teach the blinds. 

Usually a 45 minutes session of therapeutic reflexology is priced around RM100 - 150. Due to his extra effort to become a master on what he specializes on, he became a favorite among those who comes to the centre. He has now become a regular with the rich and famous for house-calls. With every house-call, he will earn from a minimum RM 300 per session.

To me, not only this will help the blinds to be economically independent, it will now bring their income to a much higher level. Bridging the income levels closer and reducing the number of low-level income people in the society, thus complimenting the nation's aspiration in creating a high-level income nation. 

Reflexology, acupuncture, perubatan as-syifa are among therapeutic methods people sought after, when they feel that main-stream medical facilities did not meet their personal satisfaction. In countries such as China, there are growing number of universities for what we call as Traditional Complimentary Medicine (TCM). Combining traditional therapy with modern knowledge of medicine. Celebrating the best of both worlds. And just last month, I learned that in Malaysia, we already have few in-house hospital acupuncturist. And Cyberjaya University College of Medical Sciences (CUCMS) is looking towards creating a TCM faculty, and they aspire that one day we are able to have in-house hospital as-syifa medical practitioner. 

The door to helping the less fortunate is always wide open. The only thing left is for us take our steps towards it. I do hope that one day I will be able to contribute a little time and energy to teach them, what they had to go as far to China to learn. Praying for the best! And hoping that in every minute of reaching that goal is filled with Allah's blessings, in sya Allah!~




Thursday, January 31, 2013

Kapal layar : Sebuah tadabur alam


Salam wbt.

Bismillah.

Pantai dan laut. Antara tempat yang diminati untuk dilawati tiap kali pulang ke tanah air. Ada banyak bangunan dan tempat yang kita lawati setiap kali bercuti. Tapi untuk saya, terbukti setiap kali, berinteraksi dengan alam itu yang paling diminati.

Minda terbawa jauh kepada jaulah di bumi andalusia, Spain dan Portugal cuti musim sejuk lepas. Setelah berhari-hari menghadap bangunan yang hebat seperti Masjid Besar Cordova dan Al-Hambra, ternyata hati kami paling gembiiiiraaa sekali ketika melihat hidupan laut yang pelbagai di Oceanarium dan ketika menghirup udara segar cliff yang curam di Cabo da Roca, the westernmost end of Europe.

[kredit]
Berinteraksi dengan alam. Dan kini kaki ini berada di pantai. Ditemani air laut yang sentiasa menjadi teman setia si pantai. 

Beberapa catamaran sedang berlayar di lautan. Membelah air laut yang tenang. Layarnya tegak menentang sang angin. Sesekali sang pengemudi menukar arah layar mengikut rentak tiupan angin.

Teringat kepada sepotong kata-kata. Tak ingat di mana mendengarnya. 

"Manusia ibarat pengemudi kapal. Kita tidak boleh mengubah arah angin. Tapi kita boleh mengawal layarnya"

Cabaran hidup. Datang dari pelbagai arah. Dan datang dengan pelbagai bentuk. Ada orang diuji dengan kelaparan. Ada orang diuji dengan kekayaan. Ada orang diuji dengan PERANGAI orang.

Dan datangnya bukan diminta. Apatah lagi boleh dikawal.

Tapi yang pasti kita boleh mengawal reaksi kita, respon kita, tindakan kita keatas segala cabaran yang dIhidang.

Seorang pengemudi kapal. Tujuan akhirnya adalah ke pelabuhan/jeti yang tertentu. Maka mengharungi lautan itu satu kemestian baginya. Tanpa angin, tidak bergeraklah sebuah kapal layar. Namun angin itu jugalah yang menjadi sebuah cabaran apabila ia berubah arah, ditambah pula jika kelajuannya tinggi. 

Mampukah si pengemudi melawan kuasa Tuhan yang meniupkan angin tersebut? 
Namun Tuhan itu jugalah yang memberi ilham, hikmah dan kebijaksanaan untuk si pengemudi agar mampu mengawal layarnya. 

Seorang manusia yang bijak akan terlebih dahulu mempelajari ilmu mengemudi kapal layar sebelum turun ke laut. Ketika mengharungi lautan, dia tidak akan marah pada sang angin yang berubah arah. Ya, dia akan kecewa, dia akan geram! Tapi dia tidak akan mengoyak layarnya, tidak akan menterbalikkan kapalnya, apatah lagi terjun ke dalam laut. Dia akan bijak untuk mengubah arah layar, atau dia akan bijak untuk menurunkan layar sebentar. Statik sebentar di atas laut, sementara menunggu sang angin meredakan lajunya.

Mengharungi hari demi hari dalam hidup, selalu kita akan berjumpa situasi yang pelik. Tak semena-mena kita dimarahi. Walau kita tak buat salah apa pun. Tak sangka-sangka kita kecelakaan. Walau kita dah berhati-hati sangat. Tak pernah diduga akan jatuh dengan teruk. Apabila kita menyangka asas kita kukuh dan kita sudah melangkah penuh yakin. 

Tapi kita kena bijak untuk terlebih dahulu mempelajari ilmu menghadapi situasi yang pelbagai itu. 
Sabar. 
Tenang. 
Kembali pada Tuhan. 
Ambil masa untuk bernafas. Agar otak penuh bertenaga untuk berfikir.
Bertanya pada yang arif. 
Semua itu Allah dah ajar di dalam Al-Quran. Dan diteladankan melalui Nabi Muhammad SAW.

Dan kita sendirilah yang perlu belajar untuk mengaplikasikannya di dalam detik-detik seharian. 

Dan itulah sebenarnya yang paling susah. Kan? Haihhh~
Kerana bila musibah menimpa, melatah yang mendahului. 
Melatah dalam kata-kata, melatah dalam perbuatan, melatah dalam tindak balas.
Bukannya sabar yang didahului.
Bukan ketenangan yang didahului.
Bukan kembali pada tuhan yang didahului.
Bukan.

Maka jadilah dia manusia yang tidak pandai mengemudi.

Dan habislah kapal yang disalahkan. Tiang disalahkan. Air laut yang disalahkan. Angin yang disalahkan. Paling teruk, apabila si ikan di laut juga disalahkan. Bukan kita tak biasa mendengar orang mengungkit dan mengaitkan yang entah apa-apa apabila musibah menimpa.

Maka, marilah kita bertindak bijak dan mari menjadi pengemudi yang baik.
Pengemudi di lautan hidup yang sementara.
Kerana insyaAllah Jannah yang ditujui itu akan kekal selamanya :)

[kredit]